BangkepNews.com.BANGKEP – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2026 Tim “Pengabdi Kebanggaan” bersama masyarakat Desa Lumbi-Lumbia, Kecamatan Buko Selatan, tengah mematangkan persiapan Festival Seasea 2026. Festival tahunan yang menjadi puncak kegiatan KKN-PPM tersebut kembali digelar sebagai upaya melestarikan budaya dan kearifan lokal Banggai Kepulauan.
Festival Seasea telah diselenggarakan sejak 2018 dan tahun ini kembali hadir di Desa Lumbi-Lumbia, salah satu lokasi pelaksanaan KKN-PPM UGM 2026. Menjelang pembukaan, mahasiswa bersama pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat setempat bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan acara, mulai dari penyusunan konsep kegiatan, penataan lokasi, hingga promosi.
Tahun ini Festival Seasea mengangkat tema “Jejak Luhur Seasea: Dari Hulu Menuju Samudra, Warisan untuk Dunia”. Tema tersebut merepresentasikan perjalanan sejarah masyarakat adat Suku Seasea yang bertransformasi dari kehidupan di dataran tinggi Pulau Peling menuju kawasan pesisir sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi alam.
Perjalanan tersebut melahirkan perpaduan budaya agraris dan maritim yang hingga kini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat. Sementara itu, frasa “Jejak Luhur” menegaskan komitmen untuk menjaga keberlanjutan budaya, sedangkan “Warisan untuk Dunia” mencerminkan harapan agar nilai-nilai budaya Banggai Kepulauan semakin dikenal sebagai ikon pariwisata dan budaya berkelanjutan yang memiliki nilai edukatif bagi masyarakat luas.
Festival Seasea 2026 dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Agustus 2026 di sejumlah titik di Desa Lumbi-Lumbia. Kegiatan ini melibatkan masyarakat dari desa-desa sekitar, termasuk wilayah yang sebelumnya menjadi lokasi KKN-PPM UGM.
Berbagai agenda akan meramaikan festival, mulai dari perlombaan olahraga tradisional seperti dayung, tudai (egrang), bagusal (tahan napas di dalam air), tarik tambang, dan renang sprint. Selain itu, akan digelar lomba kerajinan tangan, kreasi kuliner khas daerah, pertunjukan cerita rakyat, menyanyi tradisional, hingga baode atau pertunjukan syair tradisional.
Festival juga menghadirkan Seminar Budaya Seasea dan lokakarya ecoprint sebagai ruang edukasi yang menghubungkan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Persiapan festival dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Sejumlah baliho telah dipasang di beberapa titik strategis di Desa Lumbi-Lumbia untuk memperkenalkan agenda festival kepada masyarakat. Di sisi lain, promosi melalui media digital juga terus digencarkan guna menjangkau khalayak yang lebih luas sekaligus menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Banggai Kepulauan.
Ketua Pelaksana Festival Seasea 2026, Anin, berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai rencana.
“Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan Festival Seasea 2026 dapat berjalan lancar, aman, dan sukses, serta memberi pengalaman berkesan bagi peserta maupun pengunjung,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN-PPM UGM, pemerintah desa, dan masyarakat, Festival Seasea 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat Banggai Kepulauan. Festival ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas serta memperkuat potensi pariwisata berbasis kearifan lokal di daerah Banggai kepulauan.(*/Ar)













